Submit

13 Nov 2012

PRODUKSI PAKAN TERNAK DARI ONGGOK SEBAGAI INCOME ALTERNATIF PENGUSAHA TEPUNG TAPIOKA YANG PEDULI PETERNAK AYAM

clip_image002

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

PRODUKSI PAKAN TERNAK DARI ONGGOK SEBAGAI INCOME ALTERNATIF PENGUSAHA TEPUNG TAPIOKA YANG PEDULI PETERNAK AYAM

BIDANG KEGIATAN:

PKM-GT

Diusulkan oleh:

Asfarinah Hidayah (109221422442/2009)

Nevy Vilanti (307342403695/2007)

Reny Mufidah (409322417712/2009)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

MALANG

2010

LEMBAR PENGESAHAN USUL PKM-GT

1 Judul Kegitan : Produksi Pakan Ternak dari Onggok Sebagai Income Alternatif Pengusaha Tepung Tapioka yang Peduli Peternak Ayam

2 Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI (√) PKM-GT

3 Ketua Pelaksana Kegiatan

a. Nama Lengkap : Asfarinah Hidayah

b. NIM : 109221422442

c. Jurusan : Pendidikan Sastra Inggris

d. Universitas/Institut/Politeknik : Universitas Negeri Malang

e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Desa Ngerong Rt.02 Rw.01 Kec.Gempol-Pasuruan dan 085645331575

f. Alamat email : asfarinah.hidayah@yahoo.com

4 Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 orang

5 Dosen Pendamping

a. Nama Lengkap dan Gelar : Siti Muniroh, M.A.

b. NIP : 197705022008122002

c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jl. Bondowoso IA, Malang dan (0341)571322 / 081333989735

Malang,25Februari 2010

Menyetujui

Ketua Jurusan Sastra Inggris Ketua Pelaksana

Kegiatan

(Utami Widiati, Dra. M.A.,Ph.D.) (Asfarinah Hidayah)

NIP.196508131990022001 NIM. 109221422442

Pembantu Rektor

Bidang Kemahasiswaan Dosen Pendamping

(Drs. Kadim Masjkur, M.Pd.) (Siti Muniroh, M.A.)

ii

NIP. 195412161981021001 NIP. 197705022008122002

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat-NYA sehingga kami dapat menyelesaikan proposal Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Tertulis (PKM-GT) yang berjudul “Produksi Pakan Ternak dari Onggok Sebagai Income Alternatif Pengusaha Tepung Tapioka yang Peduli Peternak Ayam”. Proposal ini memuat penjelasan tentang bagaimana memanfaatkan onggok yang merupakan limbah dari pengolahan tepung tapioka menjadi pakan ternak ayam. Pengelolaan onggok ini merupakan satu langkah untuk membantu para peternak ayam menghemat biaya pakan ternak, serta mengurangi pencemaran lingkungan. Pada kesempatan ini, penyusun ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Ibu Siti Muniroh, M.A selaku dosen pembimbing penulisan karya ilmiah ini. Kepada Dr. Endang Suwarsini, M.Ked dan bapak Abdi Manaf, S.E selaku narasumber yang telah banyak memberikan masukan dan nasihat kepada penyusun sehingga penyusun dapat menyelesaikan proposal ini. Serta kepada pihak-pihak yang namanya tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang selalu memberikan dukungannya secara langsung maupun tidak langsung.

Kami menyadari bahwa karya ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat dan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Malang, 25 Februari 2010

penyusun

 
 

iii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ii

KATA PENGANTAR ……………………………………………………. .. iii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………… . iv

DAFTAR GAMBAR .................................................................................... v

DAFTAR TABEL .......................................................................................... vi

RINGKASAN……………………………………………………………… 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang……..……………………………………………………… 1

Tujuan dan Manfaat……………………………………………………….. 4

GAGASAN

Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan: Limbah Onggok ………………….. 4

Pengolahan Onggok yang Sudah Ada Selama Ini ……………………….. 5

Gagasan Baru Dalam Produksi Pakan Ternak dari Onggok yang

Terfermentasi …………………………………………………………….. 6

Tim Pelaksana…………………………………………………………….. 8

Langkah Pengolahan Onggok Dengan Fermentasi ..…………………….. 8

KESIMPULAN

Pengolahan Onggok Sebagai Pakan Ternak Ayam………………………. 9

Langkah – Langkah untuk Mengolah Onggok Basah …............................ 9

Hasil dari Pengolahan Onggok ……..……………………………............. 9

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 10

DAFTAR RIWAYAT HIDUP …………………………………………... vii

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………... viii

 
 

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Flow diagram proses pembuatan tepung tapioka PT. Sorini Agro Asia Corporindo Tbk ………………………………………....................... 2-3

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Perkembangan konsumsi pangan pokok (kg/kapita/tahun)……………... 2

Tabel 2. Komposisi gizi ubi kayu dan tepung ubi kayu (tepung tapioka/terigu) per 100gram bahan……………………………………………………………………………. 2

Table 3. Kandungan zat makanan onggok dalam 100 persen bahan kering……………... 4

1

PRODUKSI PAKAN TERNAK DARI ONGGOK SEBAGAI INCOME ALTERNATIF PENGUSAHA TEPUNG TAPIOKA YANG PEDULI PETERNAK AYAM

Asfarinah H.1) , Nevy V.2) , dan Reny M.2)

Fakultas Sastra, Uneversitas Negeri Malang 1)

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universita Negeri Malang2)

RINGKASAN

Tujuan dari proposal ini adalah untuk menunjukkan bahwa onggok yang merupakan limbah dari pembuatan tepung tapioka dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ayam yang bermutu tinggi sehingga dapat menjadi income alternatif bagi pengusaha penghasil tepung tapioka tersebut. Selain itu, proposal ini juga tertuju kepada peternak sebagai salah satu cara mendapatkan makanan ternak yang lebih murah dengan tetap memenuhi kebutuhan gizi pada ternak ayam. Kandunagan protein pada onggok tidak lebih dari 5%. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan melakukan fermentasi pada onggok tersebut yaitu dengan menggunakan Aspergillus niger sebagai inokulum dan campuran urea dan amonium sulfat sebagai sumber nitrogen anorganik. organik. Sebelum difermentasi onggok akan melalui proses pengeringan terlebih dahulu sebelum pada akhirnya akan digiling. Selanjutkan akan difermentasikan kurang lebih selama empat hari. Setelah terbentuk, maka onggok terfermentasi dipotong- potong, diremas-remas dan dikeringkan pada suhu 60 C° kemudian digiling. Hasil analisa kandungan proteinya terjadi peningkatan, yaitu protein kasar dan protein sejati, masing-masing meningkat dari 2,2 menjadi 25,6 dan 18,4%. Selain itu, Onggok basah yang dikeringkan kandungan karbohidrat cukup tinggi, yang mudah dicerna bagi ternak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kadar protein onggok dapat ditingkatkan dengan cara fermentasi dan tetap punya karbohidrat tinggi dengan haya proses pengeringan.

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pemanfaatan akan ubi kayu sangat banyak. Selain digunakan sebagai bahan baku pembuatan tempe, getuk, keripik dan lain-lain. Tanaman ini juga dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan tepung tapioka atau tepung terigu. Tingkat penggunaan tepung ini sangat tinggi karena tepung ini dapat diolah menjadi beragam produk pangan seperti mie, snack, kue dan jenis makanan lain yang dapat dibuat dari tepung terigu maupun tepung beras. Tingginya angka pemakaian tepung tapioka dapat dilihat di Tabel 1. Perkembangan konsumsi pangan pokok (kg/kapita/tahun)

Tahun

Beras

Jagung

Terigu

Ubi Kayu

Ubi jalar

Sagu

Umbi lainnya

2002

2003

2004

2005

2006

2007

2008

115,5

109,7

107,7

105,2

104,0

100,0

104,9

3,4

2,8

3,2

3,3

3,0

4,2

2,9

8,5

7,2

7,7

8,4

8,2

11,3

11,2

12,8

12,0

15,1

15,0

12,6

13,5

13,0

2,8

3,3

5,4

4,0

3,2

2,5

2,8

0,3

0,3

0,4

0,5

0,5

0,8

0,5

2

0,5

0,6

0,7

0,6

0,6

0,5

0,6

Sumber: Susenas, BPS, diolah (BKP 2008)

Sejak tahun 2002 sampai tahun 2008 peningkatan akan penggunaan tepung terigu meningkat dari 8,5 ke 11,2. Selain dikarenakan oleh faktor-faktor diatas, pengetahuan akan informasi komposisi gizi seperti yang terlihat pada tabel 2 ini:

Zat gizi

Ubi Kayu

Tepung ubi kayu

Energi (kal)

Protein (gram)

Lemak (gram)

Karbohidrat (gram)

Ca (mg)

P (mg)

Fe (mg)

Vit. A (RE)

Vit. B (mg)

Vit. B (mg)

Air (gram)

BDD (%)

157

0,8

0,3

34,9

33

40

0,7

48

30

0,06

60

75

363

1,1

0,5

88,2

84

125

1

0

0

0,04

9,1

100

Sumber : (BKP, 2009)

yang dimiliki oleh tepung ini juga memiliki pengaruh tersendiri. Semakin banyak masyarakat yang mengetahui komposisi gizi ini maka semakin bersemangat pula masyarakat-masyarakat ini untuk menjadikannya sebagai bahan

pangan. Dampaknya penggunaan atau permintaan akan tepung ini meningkat.

Meningkatnya jumlah permintaan tepung tapioka menyebabkan peningkatan hasil produksi tepung ini. Sehingga tidak dapat dipungkiri limbah yang dihasilkan juga banyak. Limbah dari hasil pembuatan tepung tapioka ini disebut wet pulp atau biasa disebut dengan onggok basah. Proses tentang bagaimana limbah ini dihasilkan dijelaskan dalam Gambar 1

Sumber: Gambar flow diagram proses pembuatan tepung tapioka PT. Sorini Agro Asia Corporindo Tbk.

Dari gambar tersebut terlihat bahwa limbah onggok basah tersebut dihasilakan dari ekstractor v dimana didalamnya terjadi proses pemisahan antara pati tepung tapioka yang berbentuk bubur atau Milk dengan wet pulp. Limbah-limbah sebanyak itu nantinya akan membawa dampak negatif bagi lingkungan apabila tidak dimanfaatkan dengan baik, karena berpotensi sebagai polutan di daerah sekitar pabrik.

Di daerah Lampung timur terdapat banyak pabrik tepung tapioka. Para pengusaha tepung ini cenderung akan membuang limbah onggok mereka daripada memanfaatkannya. Ketidak tahuan mereka akan manfaat dari limbah ini berdampak pada terbuangnya limbah ini, sehingga dapat mencemari lingkungan di daerah tersebut. Padahal pada dasarnya berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Balitnak (Balai Penelitian Ternak) jika onggok dapat dimanfaatkan dengan baik maka onggok dapat menjadi pakan ternak ayam yang memiliki nilai protein dan karbohidat tinggi. Kandungan karbohidratnya mencapai 51.8 % (Tamudji, 2004). Namun tingginya kandungan karbohidrat tersebut tidak diimbangi dengan kandungan proteinya. Protein dalam limbah ini tidak lebih dari 5 %, tetapi hal ini dapat ditingkatkan melalui proses fermentasi. Sehingga pada akhirnya dapat menjadi income alternatif bagi pengusaha tepung tapioka. Seperti negara Thailand yang sudah mampu mengembangkan teknologi pengolahan ketela pohon hanya dengan memanfaatkan pati singkong (onggok) saja menjadi berbagai produk turunannya yang bernilai tinggi untuk pangan, pakan, dan industry. Mahalnya harga pakan bagi hewan ternak ayam ini membuat para peternak terus mencari alternatif pakan bagi hewannya. Jika harga onggok yang dijadikan pakan ternak ayam lebih murah daripada harga pakan ternak ayam seperti jagung dan dedek atau polard sedangkan gizi yang dikandung sama maka para peternak akan lebih memilih onggok sebagai pakan ternak mereka, dan keuntungan bagi pengusaha tepung tapioka yang mampu mengolah limbah onggok mereka.

4

Tujuan dan Manfaat

Penulisan proposal ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa onggok dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak ayam yang memiliki kandungan protein dan karbohidrat tinggi yang tertera pada tabel 3. Selain itu pemanfaatan akan onggok ini diharapkan mampu menjadi income atau pendapatan alternatif bagi pengusaha tepung tapioka itu sendiri. Jika melihat kondisi saat ini dimana harga pakan ternak ayam broiler kini Rp 3.800 per kilo dan untuk ayam petelur menjadi Rp 3.500 per kilo (Gabriel,2008), maka para peternak akan cenderung mencari pakan yang harganya jauh lebih murah tetapi tetap bermutu bagus. Manfaatnya bagi pengusaha tepung tapioka yang dapat mengolah onggok mereka dengan baik adalah mereka akan mendapatkan keuntungan tambahan dari menjual onggok yang telah diolah tersebut. Murahnya harga jual onggok ini membuat para peternak lebih memilih untuk menggunakan onggok sebagai makanan ternak mereka. Manfaat yang dirasakan dari pengolahan onggok ini tidak hanya dari segi bisnis tapi juga mempunyai pengaruh kuat terhadap lingkungan. Dengan adanya pengolahan onggok lebih lanjut diharapkan juga akan mampu mengatasi pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah tepung tapioka.

GAGASAN

Kondisi Kekinian Pencetus Gagasan : Limbah Onggok

Realita saat ini menunjukkan bahwa semakin gencarnya para organisasi untuk mempropagandakan untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan. Selain untuk ikut serta mencegah efek rumah kaca, mereka juga sadar akan lingkungan yang merupakan tempat berlangsungnya kehidupan. Untuk itu, keadaan saat ini yang menunjukkan adanya limbah – limbah pabrik yang tidak diolah lebih lanjut serta sampah rumah tangga hanya akan membawa kerisauan bagi masyarakat sekitar, juga rusaknya lingkungan. Dari cerminan segi lingkungan tersebut membuat kita berfikir untuk menemukan solusi yang efektif dan kreatif untuk menyelesaikannya.

5

Di sisi lain, limbah tepung tapioka yang tidak digunakan didaerah lampung timur per harinya sangat banyak. Contohnya pada PT. Sorini Agro Asia Corporindo Tbk yang perharinya menghasilkan onggok hingga 370 ton, yang hanya membuat polutan semata. Padahal setelah diketahui kandunganya limbah padat yang dinamakan onggok tersebut masih mempunyai kadar protein dan karbohidrat yang cukup tinggi seprti yang terlihat pada tabel 3 kandungan zat makanan onggok dalam 100 persen bahan kering

Zat Makanan

Onggok

Bahan Organik %

Bahan Anorganik %

Protein (N x 6.25) %

Serat Kasar %

Ether Ekstrak %

BETN %

95.28

4.72

1.67

14.25

4.84

74.52

. Sedangkan dari segi ekonomi, perkembangan usaha ternak di Indonesia berkembang sangat pesat. Dengan banyaknya masyarakat yang berwiraswasta dalam hal peternakan, salah satu kendala dalam mendukung perkembangan peternakan adalah tercukupinya kebutuhan pakan ternak, sehingga perlu diupayakan jenis bahan pakan yang dapat digunakan sebagai pakan ternak pengganti yang harganya murah, tidak bersaing dengan kebutuhan manusia, mudah didapat dan berkualitas baik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya cerminan keadaan Indonesia saat ini yang melanda dari segi ekonomi menunjukkan semakin melambungnya harga bahan makan pokok. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak pada harga makanan ternak. Kenaikan harga pakan ternak saat ini yang mencapai 45 % menyebebkan para peternak kecil tidak kuat lagi untuk membeli pakan ternak. Hal ini seperti yang diberitakan oleh Gabriel di Tempo Interaktif tanggal 7 Januari 2008 harga pakan ternak ayam broiler kini Rp 3.800 per kilo dan untuk ayam petelur menjadi Rp 3.500 per kilo. Sehingga omset penjualanya turun drastis karena para peternak banyak yang gulung tikar dan mengurangi jumlah pembeliannya.

Pengolahan Onggok yang Sudah Ada Selama Ini

Setelah melakukan observasi dengan cara wawancara kepada salah satu pengusaha penghasil tepung tapioka, Bapak Abdi Manaf, memberikan informasi bahwa onggok yang merupakan limbah padat industri tapioka diperkirakan di pabriknya dihasilkan kurang lebih 370 ton per hari. Namun demikian, pemanfaatan limbah padat ini masih sangat rendah. Hanya beberapa pengusaha penampung limbah tepung tapioka (onggok) yang mengolah dengan proses sun drying secara alami. Memang jika dianalisis menunjukkan bahwa onggok kering masih mempunyai kandungan karbohidrat cukup tinggi, karena onggok ini berasal dari singkong yang diambil patinya (tepung tapioka), kemudian ampasnyalah yang bernama onggok. Sedangkan kita tahu bahwa kandungan tertinggi pada singkong adalah karbohidrat. Karena kandungan karbohidrat (BETN) inilah, onggok jika digunakan sebagai bahan pakan ternak, akan mudah dicerna bagi ternak, serta penggunaannya dalam ransum mampu menurunkan biaya ransum. Sedangkan sisa dari pemanfaatan yang kuarang maksimal tadi, dan dapat menimbulkan bau hanya diatasi dengan menanam pohon angsana dan akasia daun lebar untuk mengatasi polusi yang diakibatkan limbah tepung tapioka.

6

Gagasan Baru Dalam Produksi Pakan Ternak dari Onggok yang Terfermentasi

Dengan adanya kondisi yang menunjukkan belum adanya pemanfaatan yang maksimal dari sektor pengusaha tepung tapioka, hal ini kekereatifan harus diciptakan. Jika saat ini pengusaha penghasil tepung tapioka telah mengetahui adanya kandungan yang bermanfaat di dalam onggok, baik kandungan karbohidrat yang cukup tinggi hanya dengan pengeringan secara alami, serta adanya protein yang tak lebih dari 5% dari onggok basah, maka agar dapat di gunakan sebagai pakan ternak dicari teknik pengolahan yang dapat meningkatkan kandungan nutrisi dan menurunkan kandungan zat antinutrisi pada onggok, juga dikarenakan adanya beberapa kendala, antara lain rendahnya nilai gizi (protein) dan masih tingginya kandungan sianida. Untuk itu melalui teknologi fermentasi dengan Aspergillus niger diharapkan akan meningkatkan nilai gizi (yang dicarikan antara lain dengan meningkatnya kandungan protein kasar) dan menurunkan kandungan zat antinutrisi HCN pada onggok terolah. Hal ini diupayakan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak ayam sebasar 18 – 20 % seperti yang terlihat pada lampiran standar pakan SNI. Hasil data dapat memenuhi kebutuhan akan pakan ternak ayam, menunjukkan bahwa jika penggunaan onggok fermentasi sampai dengan 10% dalam formulasi pakan ternak ayam masih aman dan tidak menimbulkan dampak negatif makanan tersebut aman dan layak dikonsumsi oleh ayam.

Pengujian yang dilakukan di Balai Penelitian Ternak (Balitnak), pada 144 ekor ayam pedaging umur tiga hari, dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Masing-masing perlakuan (P1, P2 dan P3) diberi formula pakan dengan tiga tingkatan onggok terfermentasi yang berbeda, yaitu P1: 0% (kontrol), P2: 5,0% dan P3: 10,0% (onggok terfermentasi) dalam pakan. Kandungan protein kasar dari ransum tersebut diperhitungkan dan untuk tiap-tiap formula adalah sebagai berikut: P1: 20,7%, P2: 21,04% dan P3: 21,05%. Percobaan dilakukan selama empat minggu. Dari uji biologis tersebut menunjukkan bahwa, kinerja ayam pada semua kelompok selama percobaan cukup baik dan tidak dijumpai adanya kematian ayam. Sedang pertambahan bobot badan dari kelompok ayam yang memperoleh pakan onggok terfermentasi 10% (P3) sebesar 960 gram. Hasil ini tidak berbeda nyata dengan kelompok ayam P2 (5% Onggok terfermentasi). Pada kedua pertakuan (P2 dan P3), juga tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol (0% onggok terfermentasi), yang mempunyai bobot hidup sebesar 988 gram. Konsumsi pakan juga tidak berbeda antar perlakuan dan selama perlakuan konsumsi pada kel. P1, P2 dan P3, masing-masing adalah 1882, 1912 dan 1869 gram. Sedang untuk nilai konversi pakan adalah 1,90 untuk semua perlakuan. Dengan demikian, maka onggok terfermentasi sampai dengan 10% dapat digunakan dalam formulasi pakan ayam pedaging. (Tarmudji, 2004)

7

Dari semua keterangan diatas dapat ditemukan beberapa cara untuk membuka bisnis baru bagi para penguasaha penghasil tepung tapioka. Dengan memanfaatkan onggok yang merupakan hasil sampingan dari tepung tapioka tersebut, dengan mengolahnya menggunakan fermentasi onggok maupun pengeringan secara alami akan menjadi salah satu income alternative pengusaha tepung tapioka tersebut. Selain mendapat keuntungan dari penjualan tepung tapioka yang semakin meningkat, didukung pula dengan penjualan onggok yang telah diolah. Dengan diproduksinya pakan ternak dari onggok tersebut akan didapatkan keuntungan kumulatif yang dapat digambarkan dengan rincian secara garis besar seberapa banyak income yang akan didapatkan pengusaha jika memanfaatkan onggok sebagai ladang bisnis sampinganya.

Anggaran dalam perhitungan bisnis, permisalan harga onggok basah yang didapatkan dari narasumber berharga 20 rupiah per kg. Harga transportasi dari pabrik ke penjemur sebesar 20 rupiah per kg. Sedangkan ongkos jemur sampai kering dan siap jual diatas truk dihargai  85 rupiah per kg. Untuk harga setiap sak untuk kemasan 35 kg yaitu 35 rupiah. Total biaya produksi sampai diatas truk Rp. 126 per kg. Semuanya dihitung dalam keadaan onggok basah. Setiap 8 kg onggok basah akan menjadi 1 kg onggok kering. Jadi didapat 1 kg onggok kering berharga 126 x 8 = 1008 per kg. Jika setiap hari dihasilkan 370 ton onggok basah, dapat dihitung menjadi 370000 kg : 8 = 46250 kg onggok kering. Dari jumlah itu akan didapatkan 4625 x 1008 = 46.620.000.per hari. Ini merupakan harga kotornya. keuntunganya berasal dari onggok basah per kg adalah 20 rupiah, maka dilihat dari jumlah onggok yang dihasilkan, dapat dihitung menjadi 370000 x 20 = 7.400.000 rupiah / hari. Dari keuntungan itu belum dijumlahkan dengan keuntungan dari produksi tepung tapioka. Apabila pengusaha tepung tapioka selain memproduksi pakan ternak dari onggok, juga mengembangkan usahanya di bidang peternakan ayam. Hal ini akan melebarkan sayap para pengusaha tepung tapioka dalm bidang bisnis.

Dari kondisi yang ada saat ini di Indonesia dengan menaiknya semua bahan makan pokok, gagasan ini dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk meringankan para peternak dalam memnuhi kebutuhan ternak, terutama para peternak kecil serta para peternak pemula untuk tidak takut dalam memulai bisnis. Jika harga pakan ternak ayam broiler kini Rp 3.800 per kilo dan untuk ayam petelur menjadi Rp 3.500 per kilo (Gabriel,2008) dengan adanya produksi pakan ternak dari onggok yang berharga kurang lebih 1008 / kg, sangatlah membantu pagi peternak kecil. Setiap 3 kg onggok hanya akan didapatkan 1 kg pakan ternak. Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, mutu onggok dapat ditingkatkan sebagai bahan baku pakan sumber protein, yang pemanfaatannya dapat dikembangkan pada tingkat peternak. Bila ditinjau dari aspek kandungan proteinnya, maka kemungkinan ke depan, penggunaan onggok terfermentasi untuk pakan unggas memiliki prospek yang baik dan diharapkan dapat menggantikan jagung/dedak atau polard.

Kemudian jika dilihat dari penghasilan tersebut, bagi pengusaha tepung tapioka merupakan lading bisnis yang sangat besar dan sangatlah bermanfaat baik bagi dirinya sendiri juga lingkungan serta para peternak ayam. Selain membawakan manfaat hasil dari segi financial, juga berdampak pada segi sosial. Dengan adanya pengolahan onggok lebih lanjut akan membuka lapangan pekerjaan serta pembelajaran baru bagi mereka disekitar pabrik penghasil tepung tapioka.

8

Tim Pelaksana

Dalam mewujudkan gagasan ini dibutuhkan para pengusaha pengahasil tepung tapioka yang bersedia untuk memanfaatkan hasil onggok mereka, selain itu juga para kimiawan untuk melakukan proses fermentasi pada onggok, dan para peternak ayam sebagai konsumen. Adanya kerjasama yang baik diantara ketiga pihak tersebut nantinya akan menjadikan usaha onggok sebagai pakan ternak ayam ini menjadi sebuah peluang usaha baru di dunia bisnis.

Langkah Pengolahan Onggok dengan Fermentasi

Pertama- tama onggok harus dikeringkan terlebih dahulu, sampai kadar kekeringannya menjadi 20% dan selanjutnya digiling. Kemudian onggok difermentasikan dengan menggunakan kapang Aspergillus niger sebagai inokulum, ditambah campuran urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen anorganik. Untuk setiap 10 kg bahan baku pakan dibutuhkan 80 gram kapang Aspergillus niger dan 584,4 gram campuran mineral anorganik. Sedang untuk preparasinya, 10 kg onggok kering giling dimasukkan ke dalam baskom besar berukuran 50 kg. Selanjutnya ditambah 584,4 gram campuran mineral dan diaduk sampai rata. Kemudian ditambah air hangat sebanyak 8 liter, diaduk rata dan dibiarkan selama beberapa menit. Setelah agak dingin baru ditambahkan 80 gram Aspergillus niger dan diaduk kembali. Setelah tercampur rata kemudian dipindahkan ke dalam baki plastik dan ditutup. Fermentasi berlangsung selama empat hari. Setelah terbentuk miselium yang terlihat seperti fermentasi tempe, maka onggok terfermentasi dipotong- potong, diremas-remas dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60oC dan selanjutnya digiling. Setelah penggilingan onggok tersebut siap untuk dipasarkan.

Onggok yang sudah dipasarkan ini, nantinya akan memberikan keuntungan sampingan yang cukup banyak bagi pengusaha tepung tapioka. Seperti perhitungan yang sudah ada pada pembahasan sebelumnya, keuntungan yang diperoleh mencapai 7.400.000 rupiah/hari. Dari sinilah pengusaha tepung tapioka mampu mendapatkan income sampingan yang tidak sedikit jumlahnya. Mengingat onggok yang dijadikan alternatif makanan ayam harganya lebih murah dari harga pakan ayam pada umumnya sehingga para peternak ayam. lebih suka menggunakan onggok ini sebagai makanan ternak mereka. Oleh karena itulah penjualan onggok ini laris manis.

9

KESIMPULAN

Pengolahan Onggok Sebagai Pakan Ternak Ayam

Dengan adanya limbah tepung tapioka (onggok) yang tak terpakai, maka penulis menggagas untuk memanfaatkan limbah tersebut sebagai makanan ternak, yang ternyata memiliki kandungan protein serta karbohidrat tinggi. Langkah ini merupakan salah satu gagasan dalam usaha mengurangi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh onggok, serta ikut serta membantu para peternak dalam memenuhi kebutuhan ternak.

Langkah – Langkah untuk Mengolah Onggok Basah

Jadi, Onggok yang didapat dari pabrik-pabrik pembuat tepung tapioka merupakan onggok basah yang masih belum dapat dimanfaatkan sebagai campuran makanan ternak. Onggok ini memiliki moisture content (MC) atau kadar kekeringan antara 85% s/d 90% artinya air yang trekadung di dalam onggok tersebut berkisar 85% - 90%. Agar dapat dimanfaatkan sebagai campuran makanan ternak, hasil samping dari proses tepung tapioka ini perlu dijemur terlebih dahulu sampai kadar kekeringannya 20%. Ada beberapa cara untuk mengeringkan onggok-onggok ini, antara lain:

1. Dengan cara alami yaitu dijemur dengan menggunakan panas matahari atau sun drying. Tempat pengeringan yang baik biasanya menggunakan lantai rabatan cor, sehingga hasil jemurannya tidak kotor.

2. Dengan menggunakan teknologi dryer yaitu dengan menggunakan udara panas yang dihasilkan dari uap boiler. Dengan menggunakan cara sun drying, dan teknologi dryer, onggok yang dihasilkan kaya akan karbohidrat yang mudah dicerna bagi ternak. Kadar karbohidrat yang dimiliki oleh onggok kering ini mencapai 51,8%. Menurut Rasyid dkk. (1996), onggok merupakan bahan sumber energi yang mempunyai kadar protein kasar rendah, tetapi kaya akan karbohidrat dalam bentuk bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) yang mudah dicerna bagi ternak serta penggunaannya dalam ransum mampu menurunkan biaya ransum.

Dari proses pengeringan ini akan dihasilkan onggok yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi, tetapi mempunyai kadar protein yang rendah. Namun rendahnya kadar protein yang dimiliki onggok ini dapat di tingkatkan dengan cara memfermentasikannya. Melalui fermentasi ini kadar protein yang dimiliki onggok akan meningkat.

Hasil dari Pengolahan Onggok

Melalui proses pengeringan dihasilkan onggok yang kaya akan karbohidrat dalam bentuk bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN), kadarnya mencapai 51,8%. Apabila dengan proses fermentasi maka berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Drh. Tarmudji MS seorang peneliti Balitvet Bogor, Kandungan nutrien antara onggok dan onggok terfermentasi berbeda. Yaitu, kandungan protein kasar dan protein sejati, masing-masing meningkat dari 2,2% menjadi 25,6% dan 18,4%. Sedang karbohidratnya menurun dari 51,8% menjadi 36,2%. Hal ini terjadi karena

10

selama fermentasi, kapang Aspergillus niger menggunakan zat gizi (terutama karbohidrat) untuk pertumbuhannya. Dan kandungan protein meningkat dari 2,2% menjadi 18,4%, karena menggunakan urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen.

DAFTAR PUSTAKA

Manaf .Gambar Flow Diagram Proses Pembuatan Tepung Tapioka. Arsip PT. Sorini Agro Asia Corporindo Tbk.

Majalah pangan 62 edisi No. 56/XVIII/Oktober – Desember/2009

Sjofjan,O. 2001. Perubahan Kandungan Bahan Organik dan Protein Pada Fermentasi Campuran Onggok dan Kotoran Ayam. Universitas Brawijaya : 1-8.

Standar Pakan SNI (STANDAR NASIONAL INDONESIA-AGRITEKNO) Tarmudji.2004. Pemanfaatan Onggok untuk Pakan Unggas. Tabloid sinar tani, juni 2004.

Tarmudji. Pemanfaatan Onggok untuk Pakan Unggas. http://www.litbang.deptan.go.id/artikel/one/71/. 24 februari 2010.

Gabriel. 2008. Harga Pakan Ternak Naik.

http://www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2008/01/07/brk,20080107-115001,id.html. 24 februari 2010

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Nama : Asfarinah Hidayah

Tempat Tanggal Lahir : Sidoarjo, 30 September 1991

Alamat : Ds. Ngerong Rt.02 Rw.02, kecamatan Gempol-Pasuruan

Agama : Islam

Universitas : Universitas Negeri Malang

NIM : 10922142244

Ketua

(Asfarinah Hidayah)

NIM 10922142244

2. Nama : Nevy Vilanti

Tempat Tanggal Lahir : Bondowoso, 16 November 1988

Alamat : Jalan Sumber Sari gang 5 484

Agama : Islam

Universitas : Universitas Negeri Malang

NIM : 307344203695

Karya Ilmiah yang pernah dibuat : Pemanfaatan Limbah Kulit Singkong Sebagai Alternatif Bahan Pembuatan Keripik

Anggota

(Nevy Vilanti)

NIM 307342403695

3. Nama : Reny Mufidah

Tempat Tanggal Lahir : Pasuruan, 08 Maret 1991

Alamat : Jalan Sumber Sari gang 5 476b

Agama : Islam

Universitas : Universitas Negeri Malang

NIM : 409322417712

Karya Ilmiah yang pernah dibuat : Keefektifan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan di SMP Negeri 1 Pandaan Pasuruan

Anggota

(Reny Mufidah)

NIM 409322417712

vii

s

DAFTAR LAMPIRAN

Gambar Onggok

clip_image034

STANDAR PAKAN SNI
(STANDAR NASIONAL INDONESIA)

 

Pakan  Ayam Ras Pedaging
(Broiler Finisher)

Pakan ayam ras pedaging (broiler finisher) adalah pakan anak ayam ras pedaging umur 4 (empat)
minggu  sampai dengan dipotong

Persyaratan Mutu  Standar :

 

Kadar Air (maksimum)

14,0 %

 
 

Protein Kasar

18,0 - 22,0 %

 
 

Lemak Kasar

2,0 - 7,0 %

 
 

Serat Kasar (maksimum)

5,5 %

 
 

Abu

5,0 - 8,0  %

 
 

Calcium (Ca)

0,9 - 1,2  %

 
 

Phosphor (P)

0,7 - 1,0 %

 
 

Aflatoksin (maksimum)

60 ppb

 
 

L-Lysine (maksimum)

0,90 %

 
 

DL-Methionine (maksimum)

0,10 %

 
 
 

viii


Dengan memasukan alamat email dibawah ini, berarti anda akan dapat kiriman artikel terbaru dari SEMUA TENTANG SMA DAN EDUKASI.com di inbox anda:


0 komentar:

Poskan Komentar

 

Labels